Rabu, 06 Juni 2012

Psikologi Pendidikan - Survey Online


Ini adalah pertama kalinya saya menggunakan survey online. Saya merasa tertarik dengan survey online dan saya merasakan hal ini sangat menarik. Setelah Saya melakukan survey mengenai ketertarikan mahasiswa Psikologi terhadap mata kuliah Psikologi pendidikan, akhirnya Saya pun mendapatkan hasil dari survey tersebut dan Saya mencoba untuk membuat kesimpulan dari hasil survey yang saya peroleh tersebut.
Langsung aja kita lihat yaa J

1. Psikologi Pendidikan adalah mata kuliah yang menyenangkan.
 Sangat setuju 
 5 
 8.77% 
 Setuju 
 29 
 50.88% 
 Netral 
 22 
 38.60% 
 Tidak setuju 
 1 
 1.75% 
 Sangat tidak setuju 
 0 
 0.00% 
Responden lebih banyak yang memilih setuju dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa sebagian besar dari responden merasa mata kuliah Psikologi Pendidikan adalah mata kuliah yang menyenangkan.

2. Anda dapat mengerti dengan baik apa yang diterangkan oleh dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan.
 Sangat setuju 
 4 
 7.14% 
 Setuju 
 35 
 62.50% 
 Netral 
 11 
 19.64% 
 Tidak setuju 
 6 
 10.71% 
 Sangat tidak setuju 
 0 
 0.00% 
Responden lebih banyak yang memilih setuju dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa sebagian besar dari responden dapat mengerti dengan baik mengenai apa yang diterangkan oleh dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan.

3. Metode pembelajaran yang digunakan sudah sangat baik dan membantu Anda dalam hal memahami materi yang diberikan.
 Sangat setuju 
 6 
 10.91% 
 Setuju 
 29 
 52.73% 
 Netral 
 17 
 30.91% 
 Tidak setuju 
 3 
 5.45% 
 Sangat tidak setuju 
 0 
 0.00% 
Responden lebih banyak yang memilih setuju dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa sebagian besar dari responden merasa metode pembelajaran yang digunakan sudah sangat baik dan dapat membantu responden dalam hal memahami materi yang diberikan.

Top of Form
Bottom of Form
4. Anda merasa dengan belajar Psikologi Pendidikan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan Anda di kemudian hari.
 Sangat setuju 
 10 
 18.52% 
 Setuju 
 36 
 66.67% 
 Netral 
 8 
 14.81% 
 Tidak setuju 
 0 
 0.00% 
 Sangat tidak setuju 
 0 
 0.00% 
Responden lebih banyak yang memilih setuju dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa sebagian besar dari responden merasa bahwa dengan belajar psikologi pendidikan dapat memberikan manfaar di kehidupannya di kemudian hari.
Top of Form
Bottom of Form

5. Anda merasa tertarik dengan materi-materi yang dipelajari dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan.
 Sangat setuju 
 2 
 3.57% 
 Setuju 
 38 
 67.86% 
 Netral 
 15 
 26.79% 
 Tidak setuju 
 1 
 1.79% 
 Sangat tidak setuju 
 0 
 0.00% 
Responden lebih banyak yang memilih setuju dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa sebagian besar dari responden merasa tertarik dengan materi-materi yang dipelajari dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan.

Top of Form
Bottom of Form
6. Anda selalu memposting di blog Anda mengenai materi kuliah yang akan dipelajari.
 Sangat setuju 
 2 
 3.57% 
 Setuju 
 20 
 35.71% 
 Netral 
 26 
 46.43% 
 Tidak setuju 
 8 
 14.29% 
 Sangat tidak setuju 
 0 
 0.00% 
Responden lebih banyak yang memilih netral dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa ada responden yang selalu memposting di blognya mengenai materi kuliah yang dipelajari tetapi ada juga yang tidak selalu memposting di blognya mengenai materi kuliah yang dipelajari.

Top of Form
Bottom of Form
7. Anda mengalami kesulitan dalam mengikuti metode E-learning.
 Sangat setuju 
 3 
 5.36% 
 Setuju 
 8 
 14.29% 
 Netral 
 23 
 41.07% 
 Tidak setuju 
 22 
 39.29% 
 Sangat tidak setuju 
 0 
 0.00% 
Responden lebih banyak yang memilih netral dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa ada responden yang mengalami kesulitan dalam mengikuti metode E-Learning ada juga yang tidak mengalami kesulitan. Namun sebagian besar dari responden merasa biasa saja dalam mengikuti metode E-Learning.

Top of Form
Bottom of Form
8. Anda mengalami kesulitan pada saat pertama kali membuat blog.
 Sangat setuju 
 9 
 16.36% 
 Setuju 
 25 
 45.45% 
 Netral 
 11 
 20.00% 
 Tidak setuju 
 8 
 14.55% 
 Sangat tidak setuju 
 2 
 3.64% 
Responden lebih banyak yang memilih setuju dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa sebagian besar dari responden mengalami kesulitan pada saat pertama kali membuat blog.

Top of Form
Bottom of Form
9. Anda sering bolos pada mata kuliah Psikologi Pendidikan.
 Sangat setuju 
 1 
 1.79% 
 Setuju 
 1 
 1.79% 
 Netral 
 4 
 7.14% 
 Tidak setuju 
 29 
 51.79% 
 Sangat tidak setuju 
 21 
 37.50% 
Responden lebih banyak yang memilih tidak setuju dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa sebagian besar dari responden tidak sering bolos pada mata kuliah Psikologi Pendidikan.

Top of Form
Bottom of Form
10. Anda sering membaca buku-buku yang berkaitan dengan Psikologi Pendidikan.
 Sangat setuju 
 0 
 0.00% 
 Setuju 
 9 
 15.79% 
 Netral 
 30 
 52.63% 
 Tidak setuju 
 16 
 28.07% 
 Sangat tidak setuju 
 2 
 3.51% 
Responden lebih banyak yang memilih netral dibandingkan dengan pilihan lainnya. Itu artinya bahwa ada responden yang sering membaca buku-buku yang berkaitan dengan Psikologi Pendidikan ada juga yang tidak sering. Namun sebagian besar dari responden merasa netral dalam hal membaca buku-buku yang berkaitan dengan Psikologi Pendidikan, mungkin saja responden hanya membaca buku Psikologi Pendidikan yang memang digunakan sebagai bahan pembelajaran di kampus.

Pedagogi


Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.  Pedagogi juga kadang-kadang merujuk pada penggunaan yang tepat dari strategi mengajar. Sehubungan dengan strategi mengajar itu, filosofi mengajar diterapkan dan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan pengalamannya, situasi pribadi, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh peserta didik dan guru. Salah satu contohnya adalah aliran pemikiran Sokrates.
Kata "pedagogi" berasal dari Bahasa Yunani kuno παιδαγωγέω (paidagōgeō; dariπαίς país:anak dan άγω ági: membimbing; secara literal berarti "membimbing anak”). Di Yunani kuno, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak tuannya. Termasuk di dalamnya mengantarnya ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti alat musiknya).
Kata yang berhubungan dengan pedagogi, yaitu pendidikan, sekarang digunakan untuk merujuk pada keseluruhan konteks pembelajaran, belajar, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut. Malcolm Knowles mengungkapkan istilah lain yang mirip dengan pedagogi yaitu andragogi, yang merujuk pada ilmu dan seni mendidik orang dewasa.
Kadang sebagian orang mengartikan bahwa pedagogik merupakan ilmu pendidikan, pemaknaan ini tidak berarti salah namun juga tidak sepenuhnya benar, mengapa? Karena jika ditinjau dari makna pendidikan secara luas maka Pendidikan adalah hidup. Lebih tepatnya segala pengalaman di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.
Dari pengertian diatas maka bisa dipahami ada beberapa tingkatan dalam pendidikan, sehingga menimbulkan cabang ilmu pendidikan yang dikembangkan para ahli yaitu pendidikan pada anak yang disebut Pedagogik, ilmu pendidikan bagi orang dewasa yang disebut Andragogi serta pendidikan bagi ilmu pendidikan manula yang disebut Gerogogi.
Jelaslah bahwa Pedagogik terbatas pada ilmu pendidikan anak atau ilmu mendidik anak. Maka timbul pertanyaan lain, kapankah seorang anak masuk dalam kawasan pedagogik? Menurut M.J. Langeveld, pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan, syaratnya yaitu terlihat pada kemampuan anak memahami bahasa, karena sebelum itu dalam pedagogik anak tidak disebut telah dididik yang ada adalah pembiasaan. Sedang batas atasnya yaitu ketika anak telah mencapai kedewasaan atau bisa disebut orang dewasa.
Jadi, pengertian bahwa pedagogik adalah ilmu pendidikan berarti benar dalam pengertian pendidikan pedagogik, namun berarti salah jika mengacu pada makna pendidikan secara luas.
Kemudian, mengapa Pedagogik diperlukan? Padahal pedagogik yang merupakan rangakaian teori kadang berlainan dengan praktek di lapangan? Ada dua alasan yang melandasinya, yaitu bahwa pedagogik sebagai suatu sistem pengetahuan tentang pendidikan anak diperlukan, karena akan menjadi dasar bagi praktek mendidik anak. Selain itu bahwa pedagogik akan menjadi standar atau kriteria keberhasilan praktek pendidikan anak. Kedua, manusia memiliki motif untuk mempertanggungjawabkan pendidikan bagi anak-anaknya, karena itu agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, praktek pendidikan anak memerlukan pedagogik sebagai landasannya agar tidak jadi sembarangan.
Untuk meyakinkan lebih jauh, pedagogik secara jelas memiliki kegunaan diantaranya bagi pendidik untuk memahami fenomena pendidikan secara sistematis, memberikan petunjuk tentang yang seharusnya dilaksanakan dalam mendidik, menghindari kesalahan-kesalahan dalam praktek mendidik anak juga untuk ajang untuk mengenal diri sendiri dan melakukan koreksi demi perbaikan bagi diri sendiri.
Pedagogik perlu dipelajari bahkan jika bisa untuk setiap orang, tanpa terbatas pada identitas sebagai calon guru. Karena sebenarnya kita semua akan atau mungkin anda yang telah memiliki keluarga telah menjadi seorang pendidik. Saya menyadari dan mengetahui pada dasarnya manusia mempunyai naluri untuk mendidik tanpa mempelajari teori, buktinya banyak orang tua berhasil mendidik anak mereka sampai kesuksesan, tanpa mempelajari pedagogik, namun teoripun lahir dari praktek di lapangan.

Sumber:

Minggu, 13 Mei 2012

Blended Learning

RESUME

Dari topik yang sudah diberikan yaitu Blended Learning, saya sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit tentang metode pembelajaran blended learning. Istilah blended learning biasanya berasosiasi dengan memasukkan media online pada program pembelajaran, sementara pada saat yang sama tetap memperhatikan perlunya mempertahankan kontak tatap muka dan pendekatan tradisional yang lain untuk mendukung siswa (MacDonald, 2008).

Blended Learning itu sendiri berkembang sekitar tahun 2000 dan sekarang banyak digunakan di Amerika Utara, Inggris, Australia, kalangan perguruan tinggi dan dunia pelatihan. Blended learning juga memudahkan kita untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dimana kita ketahui kalau teknologi sudah berkembang sangat pesar sehingga kita harus mengimbanginya agar kita tidak menjadi orang yang gagap teknologi. Tapi ada juga kelemahan dari blended learning itu sendiri yaitu seperti yang dapat kita lihat belum semua masyarakat Indonesia mempunyai fasilitas untuk menggunakan internet sehingga akan terjadi kesenjangan antara yang mempunyai fasilitas dengan yang tidak.

Jadi mana yang lebih efektif blended learning atau E-learning?

Menurut kami, Blended Learning lebih efektif dibandingkan E-learning, karena melalui blended learning kita juga bisa berbagi informasi dengan teman yang lain melalui chatting dan kita juga bisa mendapatkan feed back atau opini yang beragam dari orang lain. Sedangkan pada E-learning, pembelajaran yang terjadi cenderung membosankan karena hanya mengacu pada informasi yang sudah ada atau sudah tersedia.

TESTIMONI

Pengalaman saya dalam perkuliahan kali ini dengan topik Blended Learning sangat menyenangkan. Dimana saya dapat berinteraksi dengan teman saya menggunakan G-Talk. Namun ada beberapa kendala yang kami hadapi, yaitu jaringan yang kurang baik sehingga salah seorang dari kelompok kami beberapa kali off dari chatting. Ini membuat kami sedikit kewalahan dan kami harus membuka room chat yang baru dan mencoba melanjutkan chat yang sebelumnya.

Jumat, 11 Mei 2012

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing.SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.


sumber : 
http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus